
AGAMA DAN NASIONALIS
Akhir-akhir ini kita sedang marak-maraknya gerakan
nasionalis yang terjadi di Indonesia. Ya benar, nasionalis adalah bentuk
perhatian kita terhadap bangsa. Rasa nasional yang tinggi membuat kita semakin
cinta terhadap bangsa ini. Akan tetapi teman-teman jangan sampai rasa nasional
itu membuat kita lupa, bahwa rasa nasional harus di dasari oleh agama. Loh kok
agama ? kok bisa ? rasa nasional adalah rasa yang kita rasakan bersama, karena
kita mempuyai kepemilikan bersama, contohnya negara ini, ya benar negara
Indonesia.
Agama adalah tiang kokoh untuk menentukan yang benar dan
salah. Melurukan sifat kita yang bengkok, memperbaiki keadaan, bahkan solusi
bersama. Itu namanya rasis tau ?, agama mengajarkan kita bagaimana kebersamaan
dapat diperoleh tanpa adanya konflik. Masa iah sih? Serius, jika engkau benar
dalam menjalankan agamamu, engkau bahkan tahu banyak hal yang harus dilakukan. So
bagi kita muslim, banyak sifat-sifat nabi dan para sahabat yang harus kita
pelajari agar mempunyai sifat nasional yang di dasari agama yang kuat dan benar.
Bahkan jika seorang mempunyai pikiran yang baik tetang agama, maka nasionalis
itu muncul sendirinya.
Emang klo nasionalis tinggi agamanya kurang gimana akibatnya
? adakah? . salah satunya adalah yang kita lihat sendiri dalam konflik di
nyammar. Ketika nasionalis mengalahkan suatu agama. Adakah agama yang
mengajarkan terhadap pembunuhan? Adakah agama yang mengajarkan menyakiti orang
lain. Sungguh tidak ada agama yang mengajarkan seperti itu. ketika suatu
ketakutan mengalahkan akal sehat dan nurani
Pada saat rohingnya ramai-ramai menggunakan kapal untuk
melarikan diri pada tahun 2013. Merekapun sampai di beberapa negara salah
satunya Indonesia. Bangladesh, Thailand, Malaysia. Disinilah masalah mulai
muncul kembali ketika terdapat sekat nasionalis “ini kan bukan orang-orang gua”.
Rohingnya yang terdampar di Thailand disiksa dan ditembak diperlakukan bukan
manusia. Rohingnya yang selamat sampai keaceh dianggap pengungsi gelap bukan
saudara seakidah, untungnya sekarang tidak seperti itu lagi. Rohingnya yang
tedampar di Bangladesh, tinggal di tenda yang ukuran 3 m2 untuk 16 orang. Dapat
kita lihat bahwa rasa nasionalis yang menggagap “itu bukan berasal dari sini”, “
ini kan bukan orang-orang gua” “bukan bangsa gua” membuat mereka lupa akan rasa
kemanusiaan yang diajarkan oleh agama. Pernah kita bertanya kepada diri kita. Pada
saat kita tahu kabar mereka pertama kali. Apa yang kita rasakan ? mereka adalah
mereka, atau mereka adalah saudara saya. Jujur sayapun merasakan pertama kali
adalah mereka adalah mereka. Diri kita yang terlalu memaksakan mendaki dunia
ini bahkan sampai lupa bahwa mereka adalah saudara kita. Bahkan nabi kita
Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda “
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ
مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman
sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya
sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)
kita memanglah belum sempurna tapi apakah ketidak sempurnaan itu melantaskan diri kita untuk mempertahankan ketidak sempurnaan itu. Allah memang tidak mengatakan kita harus sempurna akan tetapi kejar kesempurnaan itu. bukan menyuruh menjadi orang yang suci tapi segeralah mensucikan diri. Tidak ada manusia yang suci dan sempurna, kita pahami betul-betul.
Solusi untuk masalah rohingnya saat ini adalah solusi parcial
seperti kumpulan uang lalu kirim kemereka. Bisa melalui lalui lembaga
kemanusiaa. Karena solusi total belum bisa terjadi. Pertama hukum kejahatan
yang terjadi di nyammar anggap saudra rohingnya seperti saudara sendiri. Memang
terkesan mustahil tapi itu solusi yang terbaik menurut saya.
So dalam perkara Nasionalis dan Agama memang kita
harus perhatikan baik-baik. Kita harus mendahulukan sesuatu hal yang benar
menurut agama. Bukankah solusi hidup ini adalah agama yang mengarahkan kepada
kebaikan. Jika rasa Nasional didasari oleh Agama yang kokoh, niscahaya kita
akan saling berdamai tiada pertikaan.
Sumber : ustad
felix
Komentar
Posting Komentar